Rab. Okt 28th, 2020

Masjid Al Alam Bukti Sejarah Perjuangan Gubernur Nur Alam

Kendari, Jarrakselebritis.com |Berkunjung ke Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, tak lengkap jika belum menginjakkan kaki di Masjid Al-Alam. Masjid yang berdiri di tengah Teluk Kendari, memiliki arsitektur terbaik di Pulau Sulawesi.

Masjid Al-Alam dibangun pada 2010 dan telah menjadi ikon wisata baru di Kota Kendari. Keindahan empat buah menara pada setiap sudutnya juga makin menambah kemegahan masjid ini. Ditambah, kubah masjid yang besar dan berwarna kuning gading.

Berdiri di tengah teluk, warga yang akan menuju lokasi masjid terlebih dulu melewati hutan bakau. Tidak jarang, burung-burung yang beterbangan dan pemandangan teluk akan memuaskan mata.

Letak masjid agak berjauhan dari hiruk-pikuk jalan raya. Sehingga cocok dikunjungi saat akan bersantai atau melaksanakan ibadah.

“Nama masjid (Al-Alam) ini dari nama mantan Gubernur Sulawesi Tenggara Pak Nur Alam,” kata salah seorang warga, Alamsyah.

Nur Alam menjabat sebagai gubernur selama dua periode yaitu (2008-2013) dan (2013-2018)

Nur Alam pertama kali menjadi Gubenur pada tahun 2008 setelah memenangkan pertarungan Pilgub Sultra bersama wakilnya Saleh Lasata yang diusung dari partai PAN dan PBR dan dilantik Mendagri Mardiyanto 18 Februari 2008. Nur Alam sukses memenangkan perolehan suara berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan KPU Sultra dengan suara sebanyak 421.360 atau 42,78 persen.

 

Gubernur Nur Alam

Di awal masa kepemimpinannya Nur Alam dan Saleh Lasata menjalan beberapa program melalui terobosan yang telah dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) selama dua periode, 2008-2013 dan 2013-2018.

Periode kedua, Nusa mencetuskan visi ingin mewujudkan Sultra menjadi daerah yang sejahtera, mandiri dan berdaya saing.

Karya pembangunan Nur Alam yakni Masjid Al-Alam atau masjid apung yang berada di Teluk Kendari. Pembangunan masjid itu dilakukan sejak tahun 2010 dan diresmikan penggunaannya tahun 2018. Masjid ini menghabiskan anggaran kurang lebih Rp300 miliar yang bersumber dari APBD.

Masjid Al Alam Kendari

Sejarah Masjid Al Alam

Masjid Al Alam yang berada di tengah Teluk Kendari adalah simbol dan cita-cita membangun monumen sejarah peradaban Islam kedepan. Masjid ini dibangun berdasarkan inspirasi Gubernur Sulawesi Tenggara periode 2008 – 2012 dan 2013 – 2017 yaitu Bapak DR. H. Nur Alam, SE., M.Si dan Wakilnya Brigjen (Purn) H. Moh. Saleh Lasata.

Banyak versi cerita yang beredar di masyarakat, agar tidak menimbulkan kesalahan pahaman maka sebagimana ungkapan terkenal dari Soekarno Presiden RI pertama dalam bukunya yang berjudul Jasmerah atau jangan sekali-kali melupakan sejarah, maka penulisan penjelasan ini berusaha menguraikan fakta sebenarnya dan obyektif.

Lokasi Masjid Al Alam yang berada di tengah Teluk Kendari adalah perpaduan Alam yang harmonis sekaligus menjadi jantung Kota Kendari. Teluk Kendari adalah Ikon bagi masyarakat Sulawesi Tenggara, dari aspek Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi didesain sebagai salah satu kawasan Strategis Provinsi.

Atas dasar tersebut Bapak Gubernur Nur Alam saat itu memerintahkan menata Teluk Kendari dengan program Revitalisasi Teluk Kendari dengan sasaran utamanya yaitu memperbaiki fungsi Ekologi melalui kegiatan pengerukan sedimentasi, maupun penataan sungai Wanggu secara berkelanjutan, kemudian membangun kegiatan sosial ekonomi yaitu membangun masjid Al Alam serta memperjuangkan pembangunan Jembatan Bahtramas Teluk Kendari melalui APBN maupun relokasi pelabuhan nasional yang berada dalam teluk ke area pelabuhan Bunggundoko (sekarang Bungkutoko) dan menjadi Kendari New Port.

Jadi Masjid Al Alam bagian dari konfigurasi perencanaan terpadu Kawasan Teluk Kendari dalam skala besar dan jangka panjang.

Masjid Al Alam di desain dengan arsitektur modern dengan spirit nilai-nilai philosopi sejarah dan cita-cita mewujudkan Masyarakat Sulawesi Tenggara yang sejahtra dan religius.

Masjid Al Alam selain sebagai tempat beribadah juga menjadi pusat kajian pengetahuan Islam, pengembangan Sumber Daya Manusia maupun siar nilai-nilai budaya islam.

Posisi masjid tepat berada ditengan Teluk Kendari atau 1,5 km dari bibir pantai, pintu utama untuk menuju ke Masjid tepat dari arah jalan Teratai dengan desain jalan melingkar berbentuk angka delapan (Halu oleo).

Desain Qubah berbentuk bunga teratai dengan sistem buka tutup. Serta adanya suara alarm atau serine yang menjadi panduan suara azan serentak untuk Kota Kendari.

Tetapi dalam proses berikutnya mengalami beberapa kali perubahan karena menyusuaikan dengan kemampuan anggaran.

Rencana semula pembangunan mengandalkan APBD Provinsi hanya di tahun Pertama sebagai stimulan, selanjutnya diharapkan para donator dari berbagai kalangan yang akan menyelesaikan.

Namun demikian para donatur terutama perusahaan besar disektor minerbal sampai saat ini belum pernah terlaksana. Kondisi ini menimbulkan konsekwensi tehnis perencanaan pada aspek desain berikutnya.

Pembangunan awal melalui kontrak pekerjaan di tandatangani tahun 2010, dilaksanakan dengan peletakan batu pertama oleh mantan Menteri Agama Bapak Prof. Said Agil Husain Al-Munawar. Nilai kontrak tahun 2010 sebanyak 9,7 milyar.

Kemudian tahun 2011 sebesar 15,4 milyar dan tahun 2012 sebesar 11,052 milyar. Proses pembangunan tahun 2013 dan tahun 2014 mengalami stagnan karna proses penganggaran dari APBD tidak dapat diteruskan, disebabkan terbenturan pada kesepakatan awal dengan Legislatif bahwa anggaran hanya pada tahun pertama saja selanjutnya mengharapkan donator dari masyarakat luas.

Selama dua tahun tersebut Gubernur Nur Alam mencari solusi saat bersamaan menjelang periode ke dua masa jabatan Gubernur yang penuh dengan dinamika bahkan tekana politik termasuk isu negatif tentang Masjid yang “terbengkalai” tersebut.

Bahkan penulis sempat di perintahkan untuk mengkaji dan mencari referensi kemungkinan dialihkan menjadi Air Mancur Raksasa di tengan Teluk Kendari.

Setelah beberapa kali diadakan diskusi terbatas, beliau memerintahkan melakukan review desain perencanaan. Sesuatu saat beliau mengajak penulis dan Kadis PU menggunakan Helikopter melakukan servey udara di atas Kota Kendari dan lebih Khusus diatas Teluk Kendari.

Penulis sempat mengambil foto dengan mengunakan Handphone, Hasil foto udara tersebut terlihat jelas adanya pembentukan delta di muara sungai, penulis diskusi dengan Kadis PU untuk melakukan perubahan perencanaan, yang semula jalan masuk dari jalan teratai di alihkan ke sisi sungai Wanggu memutar ke arah baypass pertigaan RS Abunawas Kendari.

Hasil kajian ulang tersebut dilaporkan ke Gubernur karena terjadi efisiensi anggaran yang sangat signifikan, jadi semula akses jalan ke masjid menggunakan tiang pancang dari arah jalan teratai dialihkan menjadi batu bongkahan yang berfungsi ganda sebagai penguat bantaran sungai sekaligus menjadi kantong lumpur kedepan saat penggalian sedimentasi.

Oleh Gubernur disetujui dan saat itulah beliau memerintahkan TAPD merancang anggaran kelanjutan pembangunan Masjid tahun 2015, termasuk melakukan koordinasi dengan pihak Legislatif untuk membangun komunikasi yang persuasif karna awalnya sempat alot dengan berbagai argumen.

Alhamdulillah setelah mengalami stagnan dua tahun maka tahun 2015 anggaran pembangunan masjid dapat dilanjutkan dengan review desain, dari semula membutuhkan anggaran kurang lebih 500 milyar terjadi penyusuaian baik dari segi arsitektur maupun yang bersifat struktur.

Perubahan tersebut antara lain Qubah masjid, semula buka tutup seperti bunga teratai, lalu menjadi Qubah buka tutup bergeser seperti masjid Madinah, tetapi akhirnya Qubah permanen seperti sekarang.

Demikian halnya menara mengikuti desain Al Burj di dubai sebab dari aspek lingkungan Teluk Kendari arsitektur tersebut menyesuaikan dengan prinsip aerodinamik, sekaligus terjadi pengurangan tinggi yang semula 65 meter manjadi 45 meter.

Masjid Al Alam berdiri diatas kurang lebih 500 tiang pancang dengan kedalaman setiap tiang pancang antara 28 meter hingga 48 meter, dapat menampung jamaah hingga 10 ribu orang.

Kelanjutan Pembagunan Masjid tahun 2015 sebesar 34 milyar, tahun 2016 sebesar 66,9 milyar dan tahun 2017 sebesar 96,9 milyar sehingga total keseluruhan sebesar Rp. 234.267.762.000,-. Secara keseluruhan selama periode Gubernur Nur Alam.

Masjid sudah fungsional tetapi dari master plan perencanaan masih membutuhkan perhatian dan kelanjutan penyediaan anggaran pemerintah provinsi termasuk penataan jalan masuk ke masjid serta mempertahankan area manggrove sebagai kawasan konservasi, dan penataan bibir pantai teluk kendari secara keseluruhan.

Status Masjid Al Alam tercatat sebagai asset Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara. Pengelolaan jangka panjang telah dibentuk Yayasan Masjid Al Alam, sedangkan keseharian pelaksanaan sebagai tempat Ibadah Pemerintahan Provinsi Sulawesi Tenggara dan Masyarakat dengan menerbitkan Surat Keputusan Gubernur tentang Pengurusan Masjid Al Alam.

Firman Allah SWT dalam Al Quran Surah Al-Jinn ayat 18 : Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu menyembah apapun di dalamnya selain Allah.

Selain itu, RSUD Bahteramas salah satu mega proyek di bidang kesehatan adalah yang menghabiskan anggaran sekitar Rp476 miliar, yang bersumber dari APBD Rp30 miliar, APBN Rp20 miliar, pinjaman Pusat Investasi Pemerintah (PIP) Rp160 miliar.

Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah (DPID) Rp3,8 miliar serta sumbangan pihak ketiga PT Antam Rp16 miliar dan PT Inco Rp7 miliar dan sejumlah bantuan dana CSR perusahaan lain yang beroperasi di Sultra untuk perampungan pembangunannya hingga 100 persen.

Selama menjabat juga, Nur Alam berhasil memasukan sejumlah proyek strategi nasional di Sultra seperti Bendungan Landongi, Kolaka Timur (Koltim), PLTU Moramo, Jembatan Bahteramas dan Bendungan Pelosika.

Editor: GR
Sumber: Dari Berbagai Sumber Sejarah Masjid Al Alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

JARRAKSEHAT.COM. Manggis (Garcinia mangostana L.) adalah sejenis pohon hijau abadi dari daerah tropika yang diyakini berasal dari Semenanjung Malaya dan menyebar ke Kepulauan Nusantara. Tumbuh...

Pilek merupakan salah satu penyakit yang cukup umum terjadi di tengah masyarakat. Tidak ada “cara cepat” untuk menyembuhkan pilek. Akan tetapi, ada beberapa hal yang...

Tanaman brotowali adalah tanaman perdu yang sering kita jumpai di sekitar kita. Fungsi tanaman brotowali bagi sebagian masyarakat digunakan sebagai tanaman hias. Jenis tanaman brotowali...

Jarrakselebritis.com --Lyodra Margaretha Ginting (lahir di Medan, 21 Juni 2003; umur 17 tahun), adalah seorang penyanyi asal Medan, Sumatra Utara, Indonesia. Namanya mulai banyak dikenal...

Jarrakselebritis.com - Baru-baru ini, sebuah film pendek berjudul 'Tilik' viral di media sosial. Bukan tanpa alasan, hal itu karena film tersebut dianggap mampu merepresentasikan kehidupan...